Ketika Berada di Masjid Terapung Bima
Ketika berada di masjid terapung Bima. Damai menyelinap di ruang hatiku. Papnorama alam pantai indah dihiasi dengan lampu warna ungu terpancar dari kedua tiang masjid terapung.
Warna ungu adalah warna kesukaan ibu. Otomatis turun pada diriku. Jika melihat kembang, maka warna ungu yang dicari terlebih dulu. Begitu juga memilih baju selalu ada bunga ungu yang terselip baru terasa sempurna.
Pada saat kami berada di masjid suasananya begitu damai. Kutatap sekelilingku ,terihat air laut sedang mengalami pasang surut. Tiang--tiang masjid yang tertancap di sana. Dikerumuni ikan- ikan kecil berlari riang seola turut larut dalam kumandang azan yang menggema dari dalam masjid terapung Bima.
Udara segar berhembus diterangi rembulan malam menambah tentram hatiku. Dan berbisik." Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? "
Jika kita masuk ke halaman masjid nan elok. Pertama yang kita jumpai adalah sebuah bangunan mungil ternyata itu adalah kamar kecil di dalamnya ada wc juga kamar mandi, disekeliling bagian luarnya dipasang kran air untuk berwudu. Dan bagian atasnya menara yang dihiasi lampu terpasang disekeliling kubah masjid. Di atas kran air dilengkapi dgn gantungan tempat kita menggantung tas dan juga mukena yang kita bawanya. Tujuannya adalah semata-mata untuk mememprmudah kita berwudu.
Posisi di sebelah kiri untuk wanita dan bangunan yang sama di sebelah kanan untuk yang putra. Subhanallah.. Sungguh indah pemandangan dari depan. Seolah mengatakan pada kita bahwa memeng keindahan itu sangat lumrah dibutuhkan oleh setiap insan.
Dari urutan bangunan itu seakan mengingatkan kita bahwa bila kita akan menghadap Allah , kita harus bersihkan diri lahir dan batin sebelum melangkah maju ke dalam masjid rumah suci.
Seusai wudhu kami melangkah ke arah kiri menuju pintu masuk putri. Disana kita temui sebuah rak sandal yang terbuat dari baja ringan yang menempel apik di dinding pagar masjid. Subhanallah... Terlihat rapi dihiasi lampu yang terang maka nampak di bawah lantai bak jalan raya terbentang karpet berwarna biru terang membentang sepanjang jalan menuju pintu masjid. Begitupun di sebelah kanan masjid untuk jama'ah putra.
Sebelum pintu masuk terlihat papan nama masjid terapung.
Ketika masuk ke dalam masjid terlihat panorama indah dengan lampu hias.. Berkurang besar. Burung-burung kecil berlarian seakan turut merasakan dan menyambut datangnya panggilan untuk shalat.
Kami shalat dengan khusu dipimpin oleh imam dengan suara muratal nan syahdu. Perasaan damai menyelinap di rongga hati ini. Berada di tengah laut seolah kita berada di dalam akuarium yang besar dan indah.
Seusai shalat ku sempat tilawah hanya membaca surah Al-Kahfi ayat 1-10.karena malam itu adalah malam Jumad tepat tanggal 11 Agustus 2022. Malam terakhir menjelang keberangkatan kami ke Makasar mengantar putri pertama untuk kuliah di sana.
Seusai tilawah kami foto bersama anak dan cucuku. Kami mengisi waktu luang tuk menanti datangnya shalat isa dengan memilih makan bakso dengan lesehan di sekitar pantai. Di sana di Ama Hami disiapkan meja kecil dan dibentang tikar sepanjang pantai. Tempat berekreasi. Beristirahat. Memanjakan diri dengan menikmati berbagai sajian makanan dan minuman kala leleh dan penat sepanjang hari bekerja.
Hari biasa tidak terlalu ramai apalagi malam Jumad namun malam minggu itulah puncak keramaian para remaja. Muda-mudi, Bersuka ria menikmati malam.
Masih asyik menikmati minuman segar Alpukat kami dikejutkan dengan suara azan yang menggema. Bagiku itu adalah nyanyian terindah dalam dunia. Ku tatap ke arah langit ternyata bulan bersinar terang seakan mengatakan pada kami ayo bersegeralah pada panggilan ilahi. Bersegeralah pada ampunan Allah Penuhi syaf-syaf / barisan dalam shalat di masjidmu. Ku toleh ke belakang kutatap laut. Laut itu diam. Laut itu sepi namun menyimpan segudang kebaikan. Laut tidak mengeluh meski harus menerima banyak sampah dan lumpur dari gunung. Meski dimasukan bangkai binatang namun dia tetap sabar menerimanya dengan lapang dada. Seakan ia berbisik bersabarlah dan raihlah kemenanganmu dalam shalatmu.
Ikan- ikan pun berbisik meski dalam sibuk, sesibuk apa pun jadilah dirimu jangan tertipu dengan kemegahan dunia tetaplah pada pendiriannya seperti aku, yang hidup dalam lingkungan yang asin airnya namun dagingku tidak ikut asin karenanya. Masya Allah.
Ayo tinggalkan minuman, tinggalkan tempat lesehan, tinggalkan kemegahan dunia. Gapailah kemenanganmu dalam sujud hanya untuk Allah SWT. Sesungguhnya ibadahku, shalatku, hidupku dan matiku. Hanya untuk Allah semata.sebagaiman doa iftitah yang dibaca pada pembuka shalatnya..
Kuraih tas kuajak anak dan cucuku kembali melangkah dengan pasti, menuju tempat berwudhu. Menyimpan sandal di rak gerbang pintu masjid dan melangkah dengan pasti menyusuri karpet biru nan empuk menuju pintu masjid guna melaksanakan shalat isa dengan penuh rasa khusu. Seusai shalat kami sempat berjumpa dengan bapaknya cucuku abi jo. Kami sempat berbincang bersama penjaga masjid yang tamatan alumni unmuh Bima ternya beliau adalah saudaraku dari Ruteng Manggarai Flores NTT. Setelah berbincang dan membagi no HP ternyata istri beliau adalah langganan ikan ponakanku sehari- hari di pasar ikan. Subhanallah.
Kami pun berpamitan pulang namun tetap pada posisi yang terpisah antara jalan pria dan wanita. Kami sempat membeli kripik ubi rasa balado yang renya atas pesanan anaku Iko.
Kami pulang Tampa abi Jo bersama kami. Di tengah jalan ku bertanya apa yang kita bawa buat Uamu di rumah. Akhirnya kami putuskan tuk membeli kue terang bulan. Ketika kami mampir di tempat tersebut . Eh kebetulan Abi Jo sudah parkir di tempat sebelah depannnya. Ia hendak memesan gado-gado untuk ua malam itu. Alhamdulillah kami sangat menyayangi ua guru Weo yang sebentar lagi hendak brangkat umroh. Beliau dan teman-temannya memilih untuk brangkat umrah karena alasan terlalu lama menunggu giliran haji. Jadi umrah sajalah dari pada menunggu siapa tau ajal keburu menjemput sebelum tiba masanya pergi haji. Kulunnafsi dzoiqotu maut. Tiap tiap bernyawa pasti mengalami mati. Jika uda mati tdk bisa berbuat apa apa lagi jadi bekalilah diri dengan amal jariah. Akhirnya mohon do'a untuk perjalanan kami selanjutnya. Semoga tiba di tempat tujuan dengan selamat. Salam Literasi.
Bima 12 Agustus 3922.
Asyik bisa jalan jalan sambil ibadah.
BalasHapusAlhamdulillah Cing Ato masih diberi waktu oleh yang kuasa😅😅
BalasHapusMasya Allah semoga bisa ke sana
BalasHapusInsyaAllah barengan
BalasHapusAlhamdulillah hebat
BalasHapusMakasih banyak bu Is salam literasi
BalasHapus